Blog

Ketika JOY menangis sedih

img_7587Nobar film kartun, INSIDE OUT. Filmmya lucu, seperti film kartun yg lain, tapi saya nonton sambil mikir. Lha kok mikir? Wong nonton film kartun khan mestinya enjoy, relaks, lha kok malah mikir.

Ini karena setelah nonton bareng, kami harus saling berbagi akan pelajaran yg baru kami dapatkan dari film tersebut. Berhubung saya adalah “sing si”, alias pendamping, maka harus ada yg dikatakan kalau nanti peserta tidak ada yg sharing. Menjadi sedikit berat karena harus membagikan dalam kantonis.

Panitia acara sudah memberi saya link “drop box” yg berisi data film. Setelah saya buka ternyata filmnya sudah didubbing dengan kantonis. Maka saya menjelajah belantara yutup untuk menikmati film tersebut dengan bahasa yg saya mengerti lebih baik. Ternyata tidak ada film yg utuh.

Setelah mengumpulkan berbagai potongan yg tersedia, di sinilah saya akan berbagi pelajaran dari kisah Riley, gadis asal Minnesota.

Ketika Riley lahir, lahir juga perasaan atau feeling yg nantinya membentuk characternya. Yg menarik adalah feeling yg pertama lahir adalah, JOY, suka cita, kegembiraan, riang gembira.

Riley tertawa melihat dunia untuk pertama kalinya, tertawa melihat senyum bahagia ayah bundanya. Tapi itu tidak lama. Selang beberapa saat Riley menangis. Ohhh ada yang datang menekan tombol perasaan. Namanya SADNESS. Dia membawa kemurungan dan kesedihan.

Riley mulai tumbuh dari bayi menjadi anak kecil yang lincah dan riang gembira. Lari ke sana kemari dan menari-nari. Saat itu muncul dua kawan JOY dan SADNESS. Namanya FEAR dan DISGUST. Fear membantu Riley agar tidak tertimpa kesulitan dan bahaya, tidak terjatuh, dst. Sementara itu Disgust membantu Riley menyaring apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Ketika sesuatu yang tidak enak dia akan menolaknya.

Kemudian datanglah kawan mereka yang kelima, berwarna merah padam. Namanya ANGER. Dia akan bereaksi ketika ada sesuatu yang tidak berkenan di hati Riley. Dia akan meletupkan amunisi kemarahan. Sejauh itu, JOY mengambil peran cukup besar hingga membentuk Riley sebagai gadis cilik yang periang dan menyenangkan.

Karakter Riley terbentu melalui potongan-potongan memory dan yang akan tersimpan secara permanen di alam bawah sadarnya. Ada yang tersimpan baik dan selalu terkenang, ada yang terbuang atau dengan sengaja dibuang. Semakin banyak potongan kenangan kegembiraan yang terbentuk adalah pribadi yang periang, demikian sebaliknya kalau memory sadness yang banyak terbentuk, maka pribadi yang murung akan tercipta.

Hingga tiba saatnya Riley menginjak usia 11 tahun. Karena suatu hal, dia dan keluarganya harus pindah dari Minnesota ke San Fransisco. Sesuatu yang tidak mudah, bahkan tidak menyenangkan. Permasalah semakin meruncing karena container yang membawa perabotan rumah mereka tersesat dan tidak bisa segera tiba.

Konflik mulai merasuki perasaan Riley. Apalagi menjelang hari pertama sekolah dan harus memperkenalkan diri. JOY mencoba menata sebaik mungkin, menampilkan semua dengan sempurna agar hari pertama sekolah berjalan mulus. Apa daya, SADNESS mengambil peran di tengah jalan. Dia tekan tombolnya sehingga yang muncul adalah semua kenangan kesedihan. JOY dan yang lainnya protes, sementara SADNESS hanya menjawab, “Sorry, aku tidak tahu.”

Kepanikan mulai melanda, Riley mulai menangis, dan terduduk diam. SADNESS memegang kepingan kenangan Riley yang dulu adalah kegembiraan sekarang berganti menjadi kesedihan. JOY berusaha merebutnya namun gagal. Kepingan terlepas, terlempar jauh disedot pipa bawah sadar. Bukan hanya kepingan kenangan yang tersedot, Joy dan SADNESS juga ikut tersedot. Tinggallah ANGER, DISGUST dan FEAR yang menjalankan segala perasaan Riley yang berimbas pada pengambilan keputusan.

Riley menjadi kehilangan ‘jati diri’-nya. Kehilangan kegembiraan dan keriangannya. Control emosinya didominasi oleh amarah. Bahkan pada satu titik, amarah memutuskan untuk kembali ke Minnesota demi menemukan kembali “kegembiraan’ yang hilang bersamaan dengan hilangnya JOY.

Di tempat lain, JOY dan SADNESS berusaha menemukan jalan pulang, kembali ke ruang kendali control emosi dan pikiran Riley. Di bawah sana, mereka bertemu dengan Ding-Dong teman khayalan Riley sewaktu dia masih balita. Teman khayalan inilah yang akan membantu mereka kembali.

Bagian inilah yang sangat menarik. Ketika JOY dan SADNESS sama-sama terpuruk, mereka beranggapan bahwa JOY-lah yang harus segera kembali untuk mengembalikan Riley kepada kondisi semula. Bahkan keputusan ANGER dan yang lainnya untuk lari dari San Francisco dan kembali ke Minnesota adalah demi menemukan ‘JOY’ kembali.

Tapi semuanya seakan tinggal kenangan. Sekarang JOY terpuruk di lembah kenangan yang paling dalam, mulai terlupakan. JOY memeluk 4 kenangan kebahagiaan yang dulu membentuk Riley menjadi pribadi yang ceria. JOY menangis sedih. Gila! Saya sampai ikut sedikit mbrebes melihat JOY menangis sedih.

Namun dalam keterpurukan yang amat dalam itu, JOY menemukan kepingan-kepingan kenangan lain yang telah terbuang. Salah satunya adalah kepingan peristiwa saat Riley gagal mencetak gol dalam pertandiangan hoki. Kenangan itu pahit, maka Riley membuangnya, melupakannya.

JOY memutar ulang kepingan yang terbuang itu. Dia ulang-ulang melihat peristiwanya. Dan dia menemukan satu kesadaran baru. Yang mampu membawa Riley kembali pulang bukanlah dirinya, tetapi SADNESS. Kesedihan membawa seseorang kepada pertobatan, demikian kalau direlijiuskan.

Setelah semua perasaan berkumpul kembali, kepingan-kepingan kenangan yang membentuk karakter Riley terbentuk kembali bahkan semakin banyak, seiring dengan makin banyaknya tombol dalam panel kenangan. Dan ada tombol baru yang muncul, “Masa Remaja”. Dan mulai saat itu kenangan tidak lagi utuh hanya joy atau hanya sadness. Dalam gemilang warna keemasan joy masih terlihat corak biru kesedihan, juga yang lainnya.

Secara utuh, film itu berdurasi lebih dari sejam, namun kami menonton film yang sudah diedit maka hanya 45 menit saja. seperti yang saya ceritakan di awal catatan ini, setelah acara nonton, kami mulai sharing pengalaman. Pertama kami sharing dalam kelompok kecil, 6 orang. Lalu setelah 15 menit, kami sharing dalam kelompok besar.

Bagi saya pribadi, meskipun film ini adalah film kartun, namun bukanlah film anak-anak. Bahkan anak-anak yang nonton film ini harus didampingi oleh orang dewasa. Bukan karena ada adegan yang dilarang; tetapi untuk memberikan keterangan dan penjelasan.

Salah satu penjelasan yang mesti diberikan adalah, memiliki emosi itu penting. Mengendalikan emosi lebih penting lagi. Joy dan Sadness adalah dua unsur yang sepasang. Mereka saling melengkapi. Namun demi utuhnya pribadi, diperlukan rasa takut dan kemarahan pada porsi yang tepat.

Saat itulah saya melihat SADNESS tersenyum gembira setelah tadi melihat JOY menangis sedih. Bagaimana dengan ANGER, FEAR dan DISGUST? Mereka berangkulan bersama JOY dan SADNESS.

Joy mengingatkan saya bahwa kegembiraan mesti menuntun hidup kita. Di sisi lain, ketika langkah kita tah terlalu jauh tersesat, Sadness akan membawa kita pulang, dia tahu jalan pulang. Anger, Fear, dan Diagust akan menghias pribadi kita dengan indah jika cukup takarannya.

salam

Advertisements

Pandan and Banana Cake

Hari senin adalah hari libur saya. Biasanya diawali dengan bangun siang. Sarapan, trus klayapan. Libur amaaa. Kalau pas di Shek O, ya sarapan seadanya. Kalau di St. Teresa, biasa cari sarapan yg sedikit beda. Libur amaaa.

Hari ini saya di Kowloon. Pagi hari janjian dengan seorang teman yg datang hendak berbagi video. Ternyata videonya gagal ditransfer. Ya sudah ngobrol2 saja lalu kami pergi berpisah jalan.

Langkah berikutnya cari sarapan. Lebih pasnya brunch. Breakfast and lunch, karena sudah jam 10. Kali ini pilihan jatuh pada kedai singapur. Menu yg terpilih, pandan cake 1, banana cake 1 dan  kopi hitam legam tanpa gula tanpa susu tanpa creamer. Yang dua potong manis, yg segentong pahit, ketika bercampur dimulut rasanya asyik.

Sengaja saya memilih roti pandan dan roti pisang sebagai menu sarapan. Yg pandan itu lembut dan wangi, yg pisang lebih padat dan berat. Karena hari ini saya hendak berkeliling, maka energi dari pisang yg terblender dalam roti sangat saya butuhkan. Yg pandan itu karena obat pengen belaka. Sedangkan kopi adalah mantra wajib ada dalam setiap sesi sarapan. Kopi hitam tanpa gula tanpa susu tanpa creamer. Kopi saja!

Rencana saya hari ini adalah window shopping. Kebetulan sedang ramai perkara #jaketjokowi. Saya ingin meramaikan suasana saja. Ndak ada yang penting sama sekali. Hanya mengisi day off sambil jalan-jalan cengengesan, dari toko ke toko tanpa membelinya.

Apakah saya tidak kepengen memilikinya? Hmmm sebenarnya kepengen. Tetapi saya tidak ingin membelinya, bahkan kalau ada yg membelikan, untuk saat ini saya akan menolaknya. Bukan untuk memilikinya saya berkeliling mencobanya. Tetapi hanya bersenang-senang saja. Mumpung nyoba jaket di mall masih gratis dan ndak dipisuhi penjualnya.

Saya tahu bahwa #jaketjokowi itu produk ZARA. Tetapi saya tidak ingin langsung menuju ke gerai Zara. Saya berkeliling di toko yg lain dulu.

Saya mulai dari Bossini, jaketnya lumayan berat karena bahannya kulit. Motifnya doreng tentara. Tentu saja karena jaket model bomber ini katanya diadopsi dari jaket yg dikenakan pilot pengebom pada perang dunia I. Maka disebut bomber.

Dari Bossini saya melangkah ke Giordano. Merk ini menjadi salah satu fav saya kalau mau cari celana pendek atau kaos tipis. Jaket bomber yg dikeluarkan Giordano ada yg untuk cowok dan ada yg untuk cewek. Karena jaket ini didesain untuk musim dingin maka agak tebal dari bahan parasut. Meski tebal terkesan ringan. Saya coba dan bergaya di depan kaca. Kok keren ya. Tapi saya segera melepaskannya karena takut lengket. Oh iya, Giordano juga menyediakan jumper, hmmm sweater yg bisa dipadankan dengan jaket bombernya. Tulisan2 pemberi semangat yg diukirkan di dada sepertinya menarik. Sudahlah, sebaiknya pergi saja. Bahaya kalau berlama-lama di sana.

Berikutnya saya menghampiri gerai E-Sprit. Model yg disajikannya cukup menarik. Tetapi saya nggak begitu cocok. Mungkin soal harga, atau apalah. Untuk produk jumper misalnya, di toko sebelah tadi menjual dua jumper dengan harga 390. Di sini hanya dapat satu. Lalu untuk produk jaket bomber sendiri tidak jauh berbeda. Yg mungkin membedakan adalah motif jahitan menyilang yg meninggalkan jejak kotak-kotak. Dan itu langsung menbuat saya kurang sreg. Okelah, pindah saja.

Toko berikutnya yg saya kunjungi adalah G-2000. Toko yg hampir tidak pernah saya masuki. Hanya karena saya melihat ada jaket bomber di dalamnya maka saya masuk. Penasaran ingin lihat label harganya. Dan senyum saya makin lebar. Hehehehe sewu luweh bossss. Maka agar tidak dicurigai, ganyanya pegang-pegang yg lain. Lalu crek poto dulu. Tetapi harus dikatakan jaketnya bagus. Bahan kulit tipis gitu, maka cocok menahan gempuran angin kalau pas bersepeda motor. Tetapi saya khan tidak bersepeda motor. Maka saya tinggalkan tokonya.

Lalu saya melihat ada 3 toko. UNIQLO, Baleno dan ZARA. Baiklah dimulai dari Baleno dulu. Dan dari semua jaket yang saya pegang, produk ini yg menurut saya paling tidak saya suka. Tentu saja sangat subjektif tetapi khan kita milih berdasar rasa. Maka saya tidak berlama-lama di sana.

Di Uniqlo saya sedikit kesulitan mencari jaket bomber. Gerai bagian laki-laki letaknya agak di belakang. Maka harus melewati gerai ibu-ibu dan gadis-gadis. Uniqlo menampilkan banyak model jaket, termasuk bomber. Jaketnya ringan banget dan harganya juga ringan banget. Saya sempat memakainya dan bergaya, tetapi tidak tergoda untuk membelinya. 

Toko terakhir yang saya masuki adalah ZARA. Sempat celinguk’an, di mana gerangan dia berada. Akhirnya berjumpa pula. Ada dua macam jaket bomber. Satu tipis satu tebal. Dan setelah membandingkan dengan jaket yg dipakai pak Jokowi, saya yakin yg dipakai adalah yg tipis. Jaketnya ringan banget. Dari seluruh jaket yg tadi saya coba, ini paling ringan. Sangat cocok untuk udara Indonesia, karena tidak akan kepanasan kalau mengenakannya. Kalau dipakai di Hong Kong, mungkin pas dipakai pas musim semi, di mana angin banyak berhembus, atau dinawal musim dingin di mana masih sriwing-sriwing. Kalau dipakai pada musim dingin sih kurang cocok. Kurang tebal. Saya sempat mencoba dan bergaya. Saya bilang, hmm keren juga ya. Lalu saya lepas kembali dan saya gantungkan lagi.

Rasanya puas, sudah mencobai semua jenis jaket bomber. Mungkin belum semua, tetapi sudah beberapa. Rasanya lega tanpa harus mebelinya. Kembali kalau ditanya, apa saya ndak pengen? Ya pengen sih. Tetapi khan kepengenan itu ndak harus selalu dilegakan dengan membelinya. Hal kedua, ada banyak hal yg mungkin lebih mendedak untuk dimiliki, daripada sekadar mengikuti trend. Kalau saja memakai jaket itu akan membuat saya langsung menjadi pribadi yg rendah hati, sederhana, pekerja keras, pemaaf; mungkin saya akan membelinya. Khan tidak juga. Maka, saya lepaskan jaket itu lalu keluar mall sambil berdendang.

Langkah berikutnya adalah mencari pisang goreng. Hahahahahaha saya sudah cukup lama nyidam, pisang goreng dengan membayangkan taburan keju coklat di atasnya. Saya tahu ini agak mustahil mendapatkannya. Mungkin pisang goreng akan ketemu, tetapi dengan taburan coklat dan keju? Hmmm itu hanya mimpi. Tetapi tidak semua mimpi harus digayui. Sebagian saja yg mungkin dipenuhi itu cukup untuk menghibur diri.

Ketika siang beranjak menuju sore, saya pulang ke kandang. Cepat sekali ya? Iyalah, karena masih ada pekerjaan di penghujung sore. Liburan hari ini ditutup dengan tidur siang yg panjang. Sepanjang mimpi saya semalam. Mimpi tidur tanpa terganggu kebisingan suara kendaraan dan proyek bangunan. Namanya juga mimpi.

Selamat pagi dan salam.

NGEMPET

img_6570Saat ini saya sedang ngempet. Ngempet untuk tidak menulis bahkan memberi komentar mengenai banyak hal yang terjadi di Indonesia. Padahal ada banyak sekali topic yang bisa dijadikan cantelan cerita. Ada kisah “lebaran kuda”, ada “penista agama”, ada “demo damai tapi rusuh”, dan masih banyak lagi. Saya ngempet untuk tidak menulis catatan tentang topik tersebut. Bahkan juga ngempet untuk tidak membuat komentar.

Ngempet itu memiliki tingkat keakutan yang berbeda. Misalnya, ngempet lapar. Saya sering mengalami ini. Bukan apa, jam makan siang di pastoran adalah 12.30, maka kalau saya berkunjung ke rumah tetangga yang makan siangnya jam 13.00, saya harus ngempet lapar 30 menit. Ini sih ngempet yang nggak begitu terasa.

Ngempet yang lain, yang akut, ngempet ke kamar kecil padahal sedang di dalam kereta atau bus. Dan itu yang mau keluar sudah berada di ujung. Waduh rasanya badan nggak karuan, berkeringan nggak karuan, berdiri nggak bisa tegak, dan masih banyak lagi. Ndak tahu, apakah kalian pernah mengalami seperti ini. Tapi saya pernah. Yakinlah, ngempet yang ini rasanya tak tergantikan.

Masih ada ngempet yang lain. Ngempet tidak buang gas ketika sedang pertemuan, atau sedang berdiri di muka umum. Ini juga sesuatu yang menyiksa. Karena perut sudah nggak tahan dengan daya gas yang berlebih dan ingin keluar. Tetapi kalau keluar akan menimbulkan bencana bagi banyak orang, dan terlebih malu. Masih untung kalau nggak ada bunyi dan nggak ada bau. Akan berabe kalau bunyinya antik dan baunya dahsyat. Dijamin akan menjadi kenangan tak terlupa.

Ngempet yang lain yang sering menjadi perjuangan saya adalah ngempet belanja. Pastoran saya dekat dengan mall. Jalan kaki 10 menit saja sudah sampai di mall. Jalan kaki 15 menit sudah sampai di Ladies Market yang fenomenal. Padahal saya suka sekali jalan-jalan. Atau terkadang ada panggilan harus ke rumah sakit yang letaknya di depan Ladies Market. Melihat pernik-pernik, atau jajanan yang tertata menantang itu sungguh membutuhkan perjuangan lumayan keras untuk tidak jajan.

Ngempet membeli buku juga menjadi pekerjaan yang tak kalah remeh. Mungkin banyak orang akan berkata, “lho membaca buku khan bagus itu, menambah ilmu, bla-bla-bla-bla-“. Persoalannya bukan menambah ilmu atau mengurangi ilmu. Sebagai perantau di Hong Kong, kapasitas kamar begitu kecil. Belum lagi kalau harus pindah rumah, repotnya ampun-ampun. Sedangkan buku itu berat sekali. Maka, harus pandai-pandai menyiasati diri. Pinjam ke perpus atau pinjam teman.

Masih ada ngempet yang lain. Yaitu ngempet ebrbuat dosa. Untuk ini saya malu menceritakan. Tetapi saya ngempet juga soal ini. Menahan diri sekuat yang saya mampu. Terkadang jebol juga. Ndak tahu, apakah kalian pernah mengalami ini. Ngempet setengah hidup agar tidak berbuat dosa, padahal keinginan berbuat dosa menekan begitu kuat seperti penumpang MTR pada jam-jam sibuk.

Ngempet tingkat ini, ngempet untuk tidak berbuat dosa ini, setara dengan ngempet saat diajak/ditraktir teman makan di restoran dan dia pesan seafood yang aduhai. Rasanya ingin makan semua tetapi teringat asam urat yang sudah di atas ambang bahaya, maka harus ngempet agar tangan  tidak terjulur untuk  mengambil lebih dari sepotong. Padahal air liur sudah hampir terjatuh karenanya.

Dari sekian banyak pengalaman ngempet yang saya gambarkan, tingkat manakah kengempetan untuk tidak berkomentar perihal soal-soal yang terjadi di Nusantara tercinta? Mungkin sudah hampir setara ngempet pengen buang air kecil padahal masih di dalam bis, dan stopan masih jauh. Rasanya sungguh-sungguh nggak karuan.

Biasanya saya harus mengalihkan pikiran sekuat tenaga. Bersiul-siul atau apalah. Hanya saja, bersiul di dalam bis bisa dilempari penumpang yg lain. Maka berkaitan dengan soal yang terjadi di bumi Nusantara, saya harus mengalihkan pikiran, meski agak susah. Tetapi baiklah saya katakana satu atau dua kalimat saja.

Saya sungguh iri dengan Bapak Ahok. Sungguh-sungguh iri. Sebab kepadanya bisa dilekatkan ayat ini:

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena AKU kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu bersar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.(Matius 5:10-12)

Karena kalau seandainya Bapak Basuki Tjahaya Purnama bukan pengikut Yesus, belum tentu dia mengalami situasi seperti ini.

Bahkan saya tidak tahu, kengempetan level berapakah kebahagiaannya itu. Hanya, pasti saya juga memiliki “salib” yang serupa tapi tak sama. Semoga setia memanggulnya, agar juga memperoleh kebahagiaan yang setara.

Tetapi mengapa saya harus ngempet segala?

Karena saya sebenarnya tidak tahu apa-apa. Ada banyak keinginan untuk berkomentar, tetapi dasar komentar saya bisa sangat salah. Soal “lebaran kuda” ini menarik sekali untuk menjadi bahan tulisan. Tetapi saya tidak memiliki data yang baik soal ini. Juga hal-hal yang lain. Karena sebagian besar dari apa yang terjadi adalah motif politik belaka. Bahwa kemudian agama dibawa-bawa, itu hanya jalan untuk masuk belaka. Meskipun pada akhirnya semua orang tahu bahwa alasan itu sangat dipaksakan demi rencana yang berbeda.

Sedangkan kemampuan politik saya sangatlah terbatas, maka saya harus menahan diri untuk tidak ikut berkomentar yang panjang lebar. Cukuplah dengan membuat catatan ini, yang sungguh saya ngempet agar pokok bahasannya bukan soal lebaran kuda atau demo damai preketek itu, tetapi sungguh soal ngempet.

Lha untuk apa ngempet dibahas? Ya itu tadi, sebenarnya saya ingin bercerita bagaimana perjuangan ngempet berbuat dosa, tetapi khan malu. Ya sudah begini saja.

Salam ngempet.

Belajar minum kopi

Sekarang ini saya bisa menyebut peminum kopi sejati. Jangan salah berprasangka dulu. Yang saya maksud adalah, sekarang ini saya menjadi peminum kopi murni. Hanya kopi dan air panas saja. Hitam dan pahit.

Minum kopi adalah kebiasaan lumrah masyarakat desa. Saya ingat kakek saya, setiap pagi beliau harus menyalakan tungku untuk memasak pagi. Nenek saya seorang pedangang, beliau tidak mengurusi dapur. Kakek sayalah yang melakukannya. Saya ingat sekali, hal pertama yang beliu lakukan adalah mendidihkan air untuk membuat kopi. Demikian beliau lakukan setiap hari.

Kakek saya ini orangnya sangat sederhana sekali. Cara hidup dan cara berpikirnya. Ketika saya merengek pengen masuk sekolah, beliaulah yang mengantarkan untuk menemui kepala sekolah.

Waktu itu bapak saya sedang bekerja di luar pulau. Umur saya belum mencukupi, tetapi kakek saya tidak bisa menahan tangisan saya setiap hari. Maka meski ditolak, kakek saya tetap meminta agar asaya diterima sebagai siswa titipan. Maaf kok ceritanya melenceng kepada kakek saya. Baiklah kita kembali kepada persoalan kopi.

Ketika kecil saya tidak pernah minum kopi. Saya hanya minum air putih atau teh manis. Ketika SMA, asrama hanya menyediakan air putih dan teh saja. Tidak ada kopi. Saya minum kopi kalau jajan di warung. Itupun jarang-jarang, karena sebenarnya perut saya tidak kuat jika diisi kopi.

Ketika masuk biara, pilihan minuman menjadi bertambah. Di sana disediakan kopi. Hanya saja kita tidak bisa menyeduh sendiri. Kopinya sudah dibuatkan di teko besar, lalu kalau kita pengen minum kopi ya tinggal menuang dari teko. Soal rasa, yaaa tidak bisa memilih. Kebanyakan rasanya manis.

Kemudian dalam perjalanan waktu saya mulai mengenal berbagai cara penyuguhan kopi. Kebanyakan sih kopi tradisional. Kopi yang digoreng sendiri dengan campuran beras atau jagung. Minum kopi model yang beginian juga asyik, karena ketika airnya habis akan tersisa ampas yang bisa disesap-sesap.

Lalu ketika putaran nasib membawa saya ke kota besar, latihan ngopi mulai naik kelas. Sekarang bisa ngopi di café-café. Kebetulan harga segelas kopi di berbagai macam café itu harganya hampir sama. Sehingga saya memiliki kesempatan untuk ngincip produk kopi dari setiap café.

Awalnya saya tidak mengerti apa itu coffee latte, espresso, black, long black, double espresso, dll. Pertama kali ngafe, saya ngikut teman yang ngajak. Dia pesan apa saya ngikut. Awalnya minuman lattelah yang saya pesan, karena itu yang saya kenal pada awal. Kemudian latte saya tinggalkan, karena saya kurang suka susu. Dan coffee latte bahasa sederhananya adalah ‘kopi susu’.

Lalu saya mulai mencoba yang lain hingga pilihan pada black coffee atau long black kalau tidak mau terlalu pahit. Saya pilih yang ini karena alasan sederhana. Pertama, simple. Kedua teman minum kopi adalah kue manis. Maka tidak perlu menambah gula.

Memang beberapa kali mencoba espresso atau bahkan souble espresso, tetapi saya saya lebih menyukai kopi hitam tanpa gula. Ini adalah tahapan terakhir dari proses belajar minum kopi. Bagaimana menikmati pahitnya kopi yang benar-benar tanpa gula.

Sebenarnya proses belajar hingga akhirnya jatuh kepada kopi hitam ini bermula dari kopi yang disediakan oleh bruder teman sekomunitas saya. Beliau selalu meneyediakan blended roast coffee. Ketika pertama kali membuat, saya memakai takaran 1+1. Artinya satu sendok kopi dicampur satu sendok gula. Tetapi saya dapati bahwa rasanya manis. Akhirnya saya mencoba hanya sesendok kopi ditambah air panas saja. Hasilnya, pas.

Lalu sekarang di pastoran saya lebih dimanja lagi. Di sini tersedia mesin membuat kopi. Biji kopi yang sudah disangrai dimasukkan di tempatnya, air panas dimasukkan di tempatnya, lalu tinggal pencet, jadilah kopi murni. Dan saya tidak ingin menodai kemurnian kopi ini dengan pemanis dari gula. Saya ingin mencecap pahitnya kopi dari setiap teguk yang saya buat.

Begitulah saya belajar minum kopi. Seperti halnya begitulah saya belajar mencecap makna dari setiap pengalaman hidup yang datang. Peristiwa-peristiwa pahit yang sekarang datang; kerap kali sudah tidak terasa pahit lagi, karena sudah sedemikian sering saya cecap.

Dulu kalau saya mendengar ada orang membicarakan saya di belakang, saya akan meradang. Kalau ada yang berbicara kurang baik tentang saya, pasti saya akan gelisah tiga hari tiga malam. Namun bersama proses saya belajar menikmati kopi pahit tadi, demikianlah saya belajar menikmati setiap peristiwa yang mampir dalam kehidupan saya meskipun itu tidak saya kehendaki. Dan setiap peristiwa itu selalu memberi pelajaran baru, meski berat untuk dicatat.

Segelas kopi hitam membutuhkan waktu yang agak lama untuk mengahbiskannya. Terkadang saya temani dengan sepotong cheese cake, atau black forest, bahkan hingga potongan kue itu habis, kopi saya masih ada. Memang butuh proses untuk menimati kepahitan.

Oh iya, jangan menuduh saya masokis hanya karena menyukai “kepahitan”. Karena di tempat lain saya pernah mengaku “mengapa saya menyukai oseng pare”. Pare khan pahit juga, tetapi saya suka. Sekarang kopi pahit. Pokoknya jangan menuduh saya masokis. Suwer, saya normal-normal saja.

Terkadang, bahkan sering ada yang bertanya, “mengapa menyukai kopi pahit”, lalu saya jawab bahwa saya sudah manis. Kalau tidak percaya lihatlah saya. Lihatlah baik-baik. Lalu mulailah ikut meminum kopi pahit itu, nanti tidak akan terasa pahit lagi, karena terkontaminasi manis dari dari. Nggak percaya? Coba saja.

Salam.

PECEL (1)

Disclaimer:

Foto ini bukanlah milik saya. Saya mengambilnya dari google sebagai referensi belaka.

……

6 Januari 2013 sampai 6 Juli 2013 saya berada di kita Salatiga dan tinggal di rumah Khalwat Roncalli. Setiap hari Senin sampai Sabtu siang saya belajar di sana, sedangkan Sabtu sore juga hari Minggu kami mendapatkan libur. Biasaya, hari libur itu kami isi dengan mengunjungi tempat ziarah atau berekreasi bersama.

Satu hal yang saya ingat adalah, suatu Sabtu sore saya menyusuri gang-gang kecil di kota Salatiga untuk menemukan lokasi Pecel madya yang kesohor. Tempatnya nylempit di belakang bekas gedung bioskop Madya. Kalau sekarang dekat dengan gedung kantor kota madya.

Dari namanya sudah bisa ditebak jenis kuliner apa yang dijual di sana. Nasi Pecel! Ya, hanya nasi pecel. Tetapi yakinlah, ndak rugi untuk menjelajahinya. Katanya, warung itu sudah sampai pada generasi yang ketiga. Artinya dia bisa bertahan di antara segala zaman dan situasi ekonomi di sekitarnya. Dia terus berdiri, menyajikan Nasi Pecel dengan boleh memilih ditambah siraman sambel tumpang di atasnya. Rasanya? Tidak rugi harus jalan kaki lebihd ari 30 menit ke sana.

Sejatinya Nasi Pecel sudah memiliki pakemnya sendiri. Variasi yang dibuat hanyalah pelengkap yang tidak boleh mengalahkan identitas pecel itu sendiri. Sayuran hijau yang disiram bumbu pecel yang harus didominasi oleh kacang tanah lalu aroma wangi daun jeruk dan sedikit kecut asam harus terasa. Kalau tidak dia akan menjadi bumbu gado-gado, atau bumbu tahu tek-tek, atau bumbu sate. Yang semuanya berbasiskan bumbu kacang.

Pecel memiliki kekhasannya yang terletak dalam kesederhanaannya. Pecel biasa disantap oleh siapa saja, orang kebanyakan atau oleh para pejabat tinggi negeri. Dia bisa tampil di warung-warung sederhana atau juga anggun di meja-meja kokoh indah istana raja. Pecel bisa di mana saja tanpa kehilangan jati dirinya, sederhana.

Maka ketika kawan saya berpetualang mencari nasi pecel bertanya, “jadi, kita berkeliling tadi hanya untuk menceri ini?” saya menjawab dengan mantap, “kesederhanaan adalah proses panjang yang mesti dipelajari setiap hari”. Sementara kemewahan bisa tampil semarak dan semanak aneka begitu saja, namun mesti dengan tambahan make up, tata lampu, tata suara, dll. Tidak demikian halnya dengan kesederhanaan. Dia harus jujur alami tanpa bungkus dan embel-embel. Tanpa make up dan asessoris berlebih. Dia sudah memikat sedari adanya.

Pecel harus tampil dalam kesegaran. Sayur segar, nasi segar, bumbu segar. Untuk tambahan, biasanya diberikan unsur yang renyah. Rempeyek atau kerupuk. Sebagai aksesoris bisa ditambahkan sambal tumpang sebagai penambah tekanan pada unsur pedas dan gurih tempe goreng.

Demikianlah ketika mata terpejam dan ingatan terlempar pada kisah perjalanan lebih dari tiga tahun yang lalu, berjalan menyusuri gang-gang sempit di kota Salatiga untuk menemukan Pecel Madya yang kesohor. Senyatanya adalah sebuah perjalanan dari lorong-lorong hati untuk menemukan kesederhanaan, jati diri yang mesti terus dijaga. ketika kembali ke astana ada sat yang ikut terbungkus pulang. sebum kesadaran bahwa apapun yang ada hari ini, mesti tampil apa adanya dengan segala kesederhanaan dan kejujuran.

Selamat pagi jiwa-jiwa yang merindukan racikan pecel, kiranya terpedaskan.

salam