NGEMPET

img_6570Saat ini saya sedang ngempet. Ngempet untuk tidak menulis bahkan memberi komentar mengenai banyak hal yang terjadi di Indonesia. Padahal ada banyak sekali topic yang bisa dijadikan cantelan cerita. Ada kisah “lebaran kuda”, ada “penista agama”, ada “demo damai tapi rusuh”, dan masih banyak lagi. Saya ngempet untuk tidak menulis catatan tentang topik tersebut. Bahkan juga ngempet untuk tidak membuat komentar.

Ngempet itu memiliki tingkat keakutan yang berbeda. Misalnya, ngempet lapar. Saya sering mengalami ini. Bukan apa, jam makan siang di pastoran adalah 12.30, maka kalau saya berkunjung ke rumah tetangga yang makan siangnya jam 13.00, saya harus ngempet lapar 30 menit. Ini sih ngempet yang nggak begitu terasa.

Ngempet yang lain, yang akut, ngempet ke kamar kecil padahal sedang di dalam kereta atau bus. Dan itu yang mau keluar sudah berada di ujung. Waduh rasanya badan nggak karuan, berkeringan nggak karuan, berdiri nggak bisa tegak, dan masih banyak lagi. Ndak tahu, apakah kalian pernah mengalami seperti ini. Tapi saya pernah. Yakinlah, ngempet yang ini rasanya tak tergantikan.

Masih ada ngempet yang lain. Ngempet tidak buang gas ketika sedang pertemuan, atau sedang berdiri di muka umum. Ini juga sesuatu yang menyiksa. Karena perut sudah nggak tahan dengan daya gas yang berlebih dan ingin keluar. Tetapi kalau keluar akan menimbulkan bencana bagi banyak orang, dan terlebih malu. Masih untung kalau nggak ada bunyi dan nggak ada bau. Akan berabe kalau bunyinya antik dan baunya dahsyat. Dijamin akan menjadi kenangan tak terlupa.

Ngempet yang lain yang sering menjadi perjuangan saya adalah ngempet belanja. Pastoran saya dekat dengan mall. Jalan kaki 10 menit saja sudah sampai di mall. Jalan kaki 15 menit sudah sampai di Ladies Market yang fenomenal. Padahal saya suka sekali jalan-jalan. Atau terkadang ada panggilan harus ke rumah sakit yang letaknya di depan Ladies Market. Melihat pernik-pernik, atau jajanan yang tertata menantang itu sungguh membutuhkan perjuangan lumayan keras untuk tidak jajan.

Ngempet membeli buku juga menjadi pekerjaan yang tak kalah remeh. Mungkin banyak orang akan berkata, “lho membaca buku khan bagus itu, menambah ilmu, bla-bla-bla-bla-“. Persoalannya bukan menambah ilmu atau mengurangi ilmu. Sebagai perantau di Hong Kong, kapasitas kamar begitu kecil. Belum lagi kalau harus pindah rumah, repotnya ampun-ampun. Sedangkan buku itu berat sekali. Maka, harus pandai-pandai menyiasati diri. Pinjam ke perpus atau pinjam teman.

Masih ada ngempet yang lain. Yaitu ngempet ebrbuat dosa. Untuk ini saya malu menceritakan. Tetapi saya ngempet juga soal ini. Menahan diri sekuat yang saya mampu. Terkadang jebol juga. Ndak tahu, apakah kalian pernah mengalami ini. Ngempet setengah hidup agar tidak berbuat dosa, padahal keinginan berbuat dosa menekan begitu kuat seperti penumpang MTR pada jam-jam sibuk.

Ngempet tingkat ini, ngempet untuk tidak berbuat dosa ini, setara dengan ngempet saat diajak/ditraktir teman makan di restoran dan dia pesan seafood yang aduhai. Rasanya ingin makan semua tetapi teringat asam urat yang sudah di atas ambang bahaya, maka harus ngempet agar tangan  tidak terjulur untuk  mengambil lebih dari sepotong. Padahal air liur sudah hampir terjatuh karenanya.

Dari sekian banyak pengalaman ngempet yang saya gambarkan, tingkat manakah kengempetan untuk tidak berkomentar perihal soal-soal yang terjadi di Nusantara tercinta? Mungkin sudah hampir setara ngempet pengen buang air kecil padahal masih di dalam bis, dan stopan masih jauh. Rasanya sungguh-sungguh nggak karuan.

Biasanya saya harus mengalihkan pikiran sekuat tenaga. Bersiul-siul atau apalah. Hanya saja, bersiul di dalam bis bisa dilempari penumpang yg lain. Maka berkaitan dengan soal yang terjadi di bumi Nusantara, saya harus mengalihkan pikiran, meski agak susah. Tetapi baiklah saya katakana satu atau dua kalimat saja.

Saya sungguh iri dengan Bapak Ahok. Sungguh-sungguh iri. Sebab kepadanya bisa dilekatkan ayat ini:

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena AKU kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu bersar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.(Matius 5:10-12)

Karena kalau seandainya Bapak Basuki Tjahaya Purnama bukan pengikut Yesus, belum tentu dia mengalami situasi seperti ini.

Bahkan saya tidak tahu, kengempetan level berapakah kebahagiaannya itu. Hanya, pasti saya juga memiliki “salib” yang serupa tapi tak sama. Semoga setia memanggulnya, agar juga memperoleh kebahagiaan yang setara.

Tetapi mengapa saya harus ngempet segala?

Karena saya sebenarnya tidak tahu apa-apa. Ada banyak keinginan untuk berkomentar, tetapi dasar komentar saya bisa sangat salah. Soal “lebaran kuda” ini menarik sekali untuk menjadi bahan tulisan. Tetapi saya tidak memiliki data yang baik soal ini. Juga hal-hal yang lain. Karena sebagian besar dari apa yang terjadi adalah motif politik belaka. Bahwa kemudian agama dibawa-bawa, itu hanya jalan untuk masuk belaka. Meskipun pada akhirnya semua orang tahu bahwa alasan itu sangat dipaksakan demi rencana yang berbeda.

Sedangkan kemampuan politik saya sangatlah terbatas, maka saya harus menahan diri untuk tidak ikut berkomentar yang panjang lebar. Cukuplah dengan membuat catatan ini, yang sungguh saya ngempet agar pokok bahasannya bukan soal lebaran kuda atau demo damai preketek itu, tetapi sungguh soal ngempet.

Lha untuk apa ngempet dibahas? Ya itu tadi, sebenarnya saya ingin bercerita bagaimana perjuangan ngempet berbuat dosa, tetapi khan malu. Ya sudah begini saja.

Salam ngempet.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s