Belajar minum kopi

Sekarang ini saya bisa menyebut peminum kopi sejati. Jangan salah berprasangka dulu. Yang saya maksud adalah, sekarang ini saya menjadi peminum kopi murni. Hanya kopi dan air panas saja. Hitam dan pahit.

Minum kopi adalah kebiasaan lumrah masyarakat desa. Saya ingat kakek saya, setiap pagi beliau harus menyalakan tungku untuk memasak pagi. Nenek saya seorang pedangang, beliau tidak mengurusi dapur. Kakek sayalah yang melakukannya. Saya ingat sekali, hal pertama yang beliu lakukan adalah mendidihkan air untuk membuat kopi. Demikian beliau lakukan setiap hari.

Kakek saya ini orangnya sangat sederhana sekali. Cara hidup dan cara berpikirnya. Ketika saya merengek pengen masuk sekolah, beliaulah yang mengantarkan untuk menemui kepala sekolah.

Waktu itu bapak saya sedang bekerja di luar pulau. Umur saya belum mencukupi, tetapi kakek saya tidak bisa menahan tangisan saya setiap hari. Maka meski ditolak, kakek saya tetap meminta agar asaya diterima sebagai siswa titipan. Maaf kok ceritanya melenceng kepada kakek saya. Baiklah kita kembali kepada persoalan kopi.

Ketika kecil saya tidak pernah minum kopi. Saya hanya minum air putih atau teh manis. Ketika SMA, asrama hanya menyediakan air putih dan teh saja. Tidak ada kopi. Saya minum kopi kalau jajan di warung. Itupun jarang-jarang, karena sebenarnya perut saya tidak kuat jika diisi kopi.

Ketika masuk biara, pilihan minuman menjadi bertambah. Di sana disediakan kopi. Hanya saja kita tidak bisa menyeduh sendiri. Kopinya sudah dibuatkan di teko besar, lalu kalau kita pengen minum kopi ya tinggal menuang dari teko. Soal rasa, yaaa tidak bisa memilih. Kebanyakan rasanya manis.

Kemudian dalam perjalanan waktu saya mulai mengenal berbagai cara penyuguhan kopi. Kebanyakan sih kopi tradisional. Kopi yang digoreng sendiri dengan campuran beras atau jagung. Minum kopi model yang beginian juga asyik, karena ketika airnya habis akan tersisa ampas yang bisa disesap-sesap.

Lalu ketika putaran nasib membawa saya ke kota besar, latihan ngopi mulai naik kelas. Sekarang bisa ngopi di café-café. Kebetulan harga segelas kopi di berbagai macam café itu harganya hampir sama. Sehingga saya memiliki kesempatan untuk ngincip produk kopi dari setiap café.

Awalnya saya tidak mengerti apa itu coffee latte, espresso, black, long black, double espresso, dll. Pertama kali ngafe, saya ngikut teman yang ngajak. Dia pesan apa saya ngikut. Awalnya minuman lattelah yang saya pesan, karena itu yang saya kenal pada awal. Kemudian latte saya tinggalkan, karena saya kurang suka susu. Dan coffee latte bahasa sederhananya adalah ‘kopi susu’.

Lalu saya mulai mencoba yang lain hingga pilihan pada black coffee atau long black kalau tidak mau terlalu pahit. Saya pilih yang ini karena alasan sederhana. Pertama, simple. Kedua teman minum kopi adalah kue manis. Maka tidak perlu menambah gula.

Memang beberapa kali mencoba espresso atau bahkan souble espresso, tetapi saya saya lebih menyukai kopi hitam tanpa gula. Ini adalah tahapan terakhir dari proses belajar minum kopi. Bagaimana menikmati pahitnya kopi yang benar-benar tanpa gula.

Sebenarnya proses belajar hingga akhirnya jatuh kepada kopi hitam ini bermula dari kopi yang disediakan oleh bruder teman sekomunitas saya. Beliau selalu meneyediakan blended roast coffee. Ketika pertama kali membuat, saya memakai takaran 1+1. Artinya satu sendok kopi dicampur satu sendok gula. Tetapi saya dapati bahwa rasanya manis. Akhirnya saya mencoba hanya sesendok kopi ditambah air panas saja. Hasilnya, pas.

Lalu sekarang di pastoran saya lebih dimanja lagi. Di sini tersedia mesin membuat kopi. Biji kopi yang sudah disangrai dimasukkan di tempatnya, air panas dimasukkan di tempatnya, lalu tinggal pencet, jadilah kopi murni. Dan saya tidak ingin menodai kemurnian kopi ini dengan pemanis dari gula. Saya ingin mencecap pahitnya kopi dari setiap teguk yang saya buat.

Begitulah saya belajar minum kopi. Seperti halnya begitulah saya belajar mencecap makna dari setiap pengalaman hidup yang datang. Peristiwa-peristiwa pahit yang sekarang datang; kerap kali sudah tidak terasa pahit lagi, karena sudah sedemikian sering saya cecap.

Dulu kalau saya mendengar ada orang membicarakan saya di belakang, saya akan meradang. Kalau ada yang berbicara kurang baik tentang saya, pasti saya akan gelisah tiga hari tiga malam. Namun bersama proses saya belajar menikmati kopi pahit tadi, demikianlah saya belajar menikmati setiap peristiwa yang mampir dalam kehidupan saya meskipun itu tidak saya kehendaki. Dan setiap peristiwa itu selalu memberi pelajaran baru, meski berat untuk dicatat.

Segelas kopi hitam membutuhkan waktu yang agak lama untuk mengahbiskannya. Terkadang saya temani dengan sepotong cheese cake, atau black forest, bahkan hingga potongan kue itu habis, kopi saya masih ada. Memang butuh proses untuk menimati kepahitan.

Oh iya, jangan menuduh saya masokis hanya karena menyukai “kepahitan”. Karena di tempat lain saya pernah mengaku “mengapa saya menyukai oseng pare”. Pare khan pahit juga, tetapi saya suka. Sekarang kopi pahit. Pokoknya jangan menuduh saya masokis. Suwer, saya normal-normal saja.

Terkadang, bahkan sering ada yang bertanya, “mengapa menyukai kopi pahit”, lalu saya jawab bahwa saya sudah manis. Kalau tidak percaya lihatlah saya. Lihatlah baik-baik. Lalu mulailah ikut meminum kopi pahit itu, nanti tidak akan terasa pahit lagi, karena terkontaminasi manis dari dari. Nggak percaya? Coba saja.

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s