PECEL (1)

Disclaimer:

Foto ini bukanlah milik saya. Saya mengambilnya dari google sebagai referensi belaka.

……

6 Januari 2013 sampai 6 Juli 2013 saya berada di kita Salatiga dan tinggal di rumah Khalwat Roncalli. Setiap hari Senin sampai Sabtu siang saya belajar di sana, sedangkan Sabtu sore juga hari Minggu kami mendapatkan libur. Biasaya, hari libur itu kami isi dengan mengunjungi tempat ziarah atau berekreasi bersama.

Satu hal yang saya ingat adalah, suatu Sabtu sore saya menyusuri gang-gang kecil di kota Salatiga untuk menemukan lokasi Pecel madya yang kesohor. Tempatnya nylempit di belakang bekas gedung bioskop Madya. Kalau sekarang dekat dengan gedung kantor kota madya.

Dari namanya sudah bisa ditebak jenis kuliner apa yang dijual di sana. Nasi Pecel! Ya, hanya nasi pecel. Tetapi yakinlah, ndak rugi untuk menjelajahinya. Katanya, warung itu sudah sampai pada generasi yang ketiga. Artinya dia bisa bertahan di antara segala zaman dan situasi ekonomi di sekitarnya. Dia terus berdiri, menyajikan Nasi Pecel dengan boleh memilih ditambah siraman sambel tumpang di atasnya. Rasanya? Tidak rugi harus jalan kaki lebihd ari 30 menit ke sana.

Sejatinya Nasi Pecel sudah memiliki pakemnya sendiri. Variasi yang dibuat hanyalah pelengkap yang tidak boleh mengalahkan identitas pecel itu sendiri. Sayuran hijau yang disiram bumbu pecel yang harus didominasi oleh kacang tanah lalu aroma wangi daun jeruk dan sedikit kecut asam harus terasa. Kalau tidak dia akan menjadi bumbu gado-gado, atau bumbu tahu tek-tek, atau bumbu sate. Yang semuanya berbasiskan bumbu kacang.

Pecel memiliki kekhasannya yang terletak dalam kesederhanaannya. Pecel biasa disantap oleh siapa saja, orang kebanyakan atau oleh para pejabat tinggi negeri. Dia bisa tampil di warung-warung sederhana atau juga anggun di meja-meja kokoh indah istana raja. Pecel bisa di mana saja tanpa kehilangan jati dirinya, sederhana.

Maka ketika kawan saya berpetualang mencari nasi pecel bertanya, “jadi, kita berkeliling tadi hanya untuk menceri ini?” saya menjawab dengan mantap, “kesederhanaan adalah proses panjang yang mesti dipelajari setiap hari”. Sementara kemewahan bisa tampil semarak dan semanak aneka begitu saja, namun mesti dengan tambahan make up, tata lampu, tata suara, dll. Tidak demikian halnya dengan kesederhanaan. Dia harus jujur alami tanpa bungkus dan embel-embel. Tanpa make up dan asessoris berlebih. Dia sudah memikat sedari adanya.

Pecel harus tampil dalam kesegaran. Sayur segar, nasi segar, bumbu segar. Untuk tambahan, biasanya diberikan unsur yang renyah. Rempeyek atau kerupuk. Sebagai aksesoris bisa ditambahkan sambal tumpang sebagai penambah tekanan pada unsur pedas dan gurih tempe goreng.

Demikianlah ketika mata terpejam dan ingatan terlempar pada kisah perjalanan lebih dari tiga tahun yang lalu, berjalan menyusuri gang-gang sempit di kota Salatiga untuk menemukan Pecel Madya yang kesohor. Senyatanya adalah sebuah perjalanan dari lorong-lorong hati untuk menemukan kesederhanaan, jati diri yang mesti terus dijaga. ketika kembali ke astana ada sat yang ikut terbungkus pulang. sebum kesadaran bahwa apapun yang ada hari ini, mesti tampil apa adanya dengan segala kesederhanaan dan kejujuran.

Selamat pagi jiwa-jiwa yang merindukan racikan pecel, kiranya terpedaskan.

salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s