Bir “Karmeliet”

Sepertinya perlu penegasan pada awal bahwa yang dimaksud dengan “bir karmel” adalah minuman bir yang sesungguh-sungguhnya bir dan merek-nya adalah senyata-nyatanya “karmel”. Menilik dari penggunaan bahasa, saya bisa memastikan bahwa itu bukan bahasa Indonesia, pun juga bahasa Inggris. Sepertinya lebih dekat kepada rumpun Jerman, atau Belanda atau Belgia. Maaf semaaf-maafnya, saya tidak menegrti ketiga bahasa tersebut.

Lupakan soal bahasa itu adalah bahasa dari mana. Hal kedua yang perlu saya tekankan di sini adalah, apakah bir itu produksi para karmelit atau bukan, saya tidak tau pasti. Kalaupun itu diproduksi oleh para karmelit, setidaknya, sejauh saya hidup sebagai karmelit, bukan diproduksi oleh para karmelit yang saya kenal.

Pernah, biara karmel kami memproduksi beberapa jenis produk makanan  dan minuman semisal “selai apel karmel”, “madu karmel”, “cuka apel karmel”, tetapi biara kami  belum pernah  memproduksi bir.

Bisa jadi nun jauh di belahan dunia yang lain, ada sekelompok orang yang juga disebut karmelit memproduksi bir bernama karmel. Bisa jadi, saya tidak tahu.Tentu kalian harus memaafkan keterbatasan pemahaman saya dan batas pengetahuan saya.

Tetapi itu semua tidak penting. Yang paling penting adalah merasakan, menuangnya dalam gelas dan meneguknya. Apakah minuman ini benar-benar bir atau sebenarnya air kuning berbusa saja. setelah saya tuang dan meneguknya, saya boleh mengatakan bahwa minuman ini adah bir senyata-nyatanya. Harus saya katakana, kualitasnya jauh di atas bir bintang.

Rasanya halus namun menghunjam. Dai tidak kasar, tidak tergesa-gesa dalam memberi kesan, mengalir halus dengan rasa pahit yang selaras, dia esperto pesepakbola yang pandai meliuk-liukan kaki menggocek bola hinge akhirnya gol, dia halus namun sungguh menohok titik terdalam. Kandungan alkoholnya 8.4%, di atas rata-rata bir yang hanya 5 atau 6 % belaka.

Setelah tahu bahwa minuman ini adalah bir senyata-nyatanya, selanjutnya saya mau apa? Sata tidak mau apa-apa, karena sudah tidak ada yang lain, kecuali ada yang memberi. Karena bir ini adalah hadiah dari seorang kawan yang dengan suka hati menghadiahkan untuk kami, tiga botol jumlahnya. Dia berlaku sangat adil, kami ada tiga orang, lalu dia membelikan 3 botol. Lalu untuk dia sendiri apa?

Rupanya dia sudah memperhitungkan bahwa tidak semua dari kami penyuka minuman beralkohol. Kawan saya yang orang Surabaya itu akan gatal-gatal kulitnya kalau meneguk minuman beralkohol. Terpujilah dia karena akan dijauhkan dari bahaya mabuk-mabukan. Maka dari 3 botol yang dihadiahkan, kawan yang membawa ini bisa meneguk satu botol juga.

Oh iya, mungkin ada yang bertanya, apa istimewanya kalau sebuah bir harus dilabeli “karmel”. Apakah ini merek dagang yang menguntungkan? Atau di daerah asalnya sana, karmel identik dengan minuman-minuman sejenis alkohol? Saya tidak bisa menjawab dengan pasti. Dan pasti jawaban saya tidak seperti yang digagaskan si produsen bir. Tetapi bolehkah kita membongkar sedikit, mengurai sedikit, mengudar sedikit agar ada sesuatu yang bisa dikunyah-kunyah. Oh iya lupa, bir tidak bisa dikunyah. Lalu apa? Biar begitu saja.

Karmel itu identik dengan keheningan, identik dengan doa, identic dengan hidup rohani? Mengapa ini bir? Atau katakan saja, mengapa ini ada minuman beralkohol dengan merek karmel? Mari saya ajak kalian berkelana sejenak.

Minuman beralkohol yang memiliki merek “tarekat religious” bukan hanya karmel. Ada banyak minuman lain,s alah satu contohnya adalah “benediktin”. Lho mengapa demikian? Apakah ini diproduksi oleh para rahib?

Yup! Benar sekali. Minuman itu pertama-tama bukan diproduksi, tetapi di temukan. Hmmm, maksudnya, minuman itu bukan hilang terus ditemukan, tetapi ramuan yang menghasilkan minuman berjenis yang disebut di atas, dihasilkan oleh para rahib. Rumit sekali kata-kata saya. Sederhananya, para rahib itu memiliki banyak waktu untuk mencampur berbagai macam ramuan yang mengahsilkan minuman yang enak sekali. Begitu saja.

Mengapa demikian? Hal kedua yang patut kita mengerti, para rahib itu, perlu bekerja untuk hidup. Ada yang memelihara sapi penghasil susu, kemudian membuat keju, membuat aneka kue. Ada juga yang mengolah minuman dan dijual, seperti Benediktin, dan sekarang saya tunjukkan (mungkin) para suster karmelit. Dan kerja tangan itu semua dilakukan dalam hening.

Yakinlah, untuk menemukan paduan ramuan yang baik dibutuhkan keheningan. Cobalah kalian melakukan dalam keramaian, untuk menciptakan sesuatu yang baru, itu sulit sekali. Untuk tidak mengatakan mustahil. Keheningan, ketenangan, ketekunan, juga dukungan doa yang kuat akan menghasilkan karya yang berkualiats. Juga kalau itu adalah minuman.

Meski sama-sama berjenis “bir”, aneka macam merek bir memiliki rasa yang berbeda yang menjadi kekhasan minuman-minuman tersebut. Misalnya, maaf saya menyebut merek, bir bintang memiliki rasa yang berbeda dengan bir Anker, berbeda dengan bir-bir yang lain. Meski demikian ada benang merah yang sama sehingga minuman itu disebut bird an bukan wisky.

Hmmm, sebentar…, setelah menulis beberapa paragaraf kok rasanya catatan ini tidak memiliki arah yang jelas dan pasti. Dan kalian yang membaca pasti dibuat bingung. Mungkin saya kebanyakan minum. Padahal cuman sebotol. Berarti saya tidak boleh lagi minum, kalau harus beli sendiri. Atau, saya harus hening dulu, tenang dulu, merenung dulu lebih dalam, lebih lama. Dan baru mengudarnya dengan saksama, baru membagikannya. Itupun kalau saya menemukan sesuatu yang bermakna. Ah sudahlah, memang sebaiknya saya sudahi sampai di sini. Silahkan kalian bermeditasi, hening dan berdoa. Terutama mendoakan saya, agar lurus jalan pikiran saya.

Eh sebentar dulu. Pada gambar itu saya menulis, kalau hidup adalah sebotol bir maka minumlah. Ya, terkadang hidup itu terasa agak pahit, kurang manis, agak menusuk, tapi bisa memabukkan; toh harus dinikmati juga, diteguk pelan-pelan hingga habis. Karena bir tidak bisa disimpan. Demikian setiap peristiwa dalam hidup memiliki waktunya sendiri; ada yg bisa menunggu ada yg mesti segera dieksekusi. Demikianlah.

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s