Terus Berjalan

1 Desember 2015

Hari bersejarah bagi kami, karena mulai hari itu secara resmi menggantikan para suster Kolumban mengelola rumah retret Shek O di Hong Kong. Kesepakatan itu tertuang dalam lembaran perjanjian yang berjangka tiga tahun. Selanjutnya bisa diperpanjang bisa juga tidak. Masing-masing memiliki hak untuk menghentikan kerjasama, tentu dengan pemberitahun sebelumnya.

Tentu semuanya tidaklah ujug-ujug. Ada proses panjang mulai bulan Maret hingga akhirnya final sekitar bulan Agustus. Di rentang waktu tersebut kami tak lupa terus menyiapkan diri, belajar bahasa yang seperti mendorong batu ke puncak bukit. Di sinilah saya sungguh merasa bahwa tiap manusia memiliki bakat yang berbeda-beda. Bahkan usia saja tidak cukup menjangkaunya.

Ada yang mengatakan bahwa saya masih muda, dan tentunya akan mudah belajar bahasa kanton yang susyahh ngadubilah tersebut. Nyatanya, teman saya yang jauh lebih senior dari saya ternyata jauh lebih cepat belajar bahasanya. Saya menerima ini dengan hati riang. Bahwa bagian saya memang tidak sebanyak bagiannya. Toh saya diberi bagian yang lain.

Pada 27 November 2015 teman saya secara resmi mulai tinggal di rumah retret. Pada waktu itu para suster kolumban masih tinggal di sana. Kesempatan tinggal beberapa hari di sana digunakan untuk belajar, bagaimana dahulu para seuster mengelola rumah retret tersebut,d an tentu saja bagaimana merawat bangunan rumah retret tersebut. Ada banyak hal harus diurus, dilanjutkan, atau diganti. Waktu beberapa hari sebelum para suster benar-beanr pergi sebenarnya tidak cukup untuk belajar, tetapi hidup harus terus maju. Dengan segala keterbatasan, karena Dia berjanji bahwa tidak akan memberi beban melebihi apa yang bisa saya pikul.

Tanggal 20 Desember 2015, teman serumah saya yang sejak akhir Maret yang lalu menjadi “teman bergelut” ikut pindah dan tinggal di rumah retret. Karena memang demikianlah kesepakatan kami. Dari kami bertiga, mereka berdua akan tinggal dan melayani di rumah retret. Sedangkan saya akan melayani di paroki, atau di tempat lain yang diperlukan oleh keuskupan. Namun karena masih terbelenggu dengan sekat bahasa yang sangat tinggi, maka saya untuk waktu yang tidak tahu sampai kapan, akan tinggal di paroki, belajar dan melayani.

Shelter dan tempat pengungsian

Hong Kong memiliki banyak taman yang indah, yang terduh. Selama hampir setahun lamanya, ketika kami naik bis dari Stanley ke East Tsim Sha Tsui, kami selalu berteduh sejenak di taman dekat terminal untuk menikmati biscuit sebelum melanjutkan perjalanan. Rindangnya pohon serta reriuhan suara burung menyegarkan hati dan meneduhkan panas yang kerap menerpa. Setelah duduk di sana sekitar 5 menit kami biasanya melanjutkan perjalanan. Taman itu menajdi shelter nyata dalam perjalanan kami selama tahun pertama di Hong Kong.

Shelter, kata-kata ini kemudian menjadi sangat familiar dan sering terdengar seiring kami tinggal di Hong Kong. Dulu saya pahami sebagai tempat berteduh, sekarang menjadi pengalaman yang nyata dalam perjalanan ini.

Dahulu dalam doa seringkali mengucap kata-kata, “gunung batu tempat pengungsianku”, kemudian kata-kata keren berbahasa Inggris, “my rock, my refuge”. Keren diucapkan namun belum mampu menyentuh arti yang sejatinya.

Lalu di sinilah saya berkenalan dengan para suster Gembala Baik (RGS) yang mengelola shelter bagi saudari-saudari pekerja migrant yang kurang beruntung; yang diputus kontrak oleh majikannya secara sepihak, yang berkasus hukum dan butuh pendampingan, dll. Shelter menjadi bukan saja rumah berteduh bagi mereka yang tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalanya. Tetapi menajdi rumah untuk berbagi luka dan bersama-sama menyembuhkan diri.

Beberapa kali saya berkunjung ke shelter mereka, entah untuk makan bersama, atau karena ada yang membutuhkan pertolongan. Dalam hal lain, saya juga menemukan banyak shelter yang disiapkan oleh Tuhan bagi jiwa saya yang tiba-tiba remuk dan butuh tempat berlindung.

Hidup dalam budaya yang berbeda, dengan aneka karakter yang belum tentu sesuai dengan isi jiwa tak jarang melukai. Pada awalnya smeua terasa biasa namun jika dibiarkan akan sangat berbahaya, bisa infeksi dan kalau salah perawatan malah membutuhkan amputasi. Maka menemukan aneka shelter yang disiapkan Tuhan sungguhlah melegakan.

5 Mei 2016

Perjalanan iman membawa saya ke tempat yang baru lagi. Setelah hampir 15 bulan saya tinggal dan belajar melayani di paroki St. Anne Stanley, saya pindah ke tempat yang baru. Paroki Santa Teresa Kowloon adalah tempat baru di mana saya akan tinggal dan melayani sebagai pastor pembantu. Ada kegembiraan sekaligus ketakutan. Gembira karena sekarang saya akan mulai melayani secara penuh, takut karena sadar diri bahwa kemampuan saya belumlah mencukupi. Orang Hong menyebutnya “yauh laht yauh em laht”.

Setiap hal memiliki “pedas” dan “tidak pedas”, ada positif dan negative, ada berat ringannya, ada hitam putihnya. Bahkan buah manga yang katanya paling manispun tidak bisa hanya memberikan rasa manis belaka tanpa ada getar-getar kecut. Mungkin akan lebih mudah ketika mengahdapi sesuatu yang kelihatan manis belaka, meski tahu ada getar kecut di dalamnya, daripada melihat sesuatu pahit belaka meski tahu ada manis terselip di antaranya.

Sekitar dua minggu sebelum masuk di paroki ini, pastor paroki mengajak bicara pimpinan saya. Intinya memberitahu bahwa di tempat baru ini kemungkinan sangat besar (99%) saya akan mengahdapi kesulitan. Dasarnya satu, kemampuan bahasa saya belum mencukupi, padahal pelayanan yang ada sangat banyak dan bervariasi. Apakah saya bisa menahan beban yang akan diberikan? Pastor paroki khawatir bahwa saya akan depresi. Tetapi pimpinan saya memutuskan untuk tidak mengubah keputusan.

In the hardship you will learn more. Itu nasihat yang diterima oleh pimpinan saya dari orang lain yang ia jumpai setelah berbicara dengan pastor paroki saya tersebut. Nasihat itu yang menguatkan beliau untuk berkata, “kamu tetap di sana” kepada saya. Dan memang benar, setidaknya ada banyak pelayanan yang “harus” saya dampingi. Dalam waktu relative singkat saya mesti belajar banyak hal.

Soal kemampuan berbahasa, saya masih keteteran. Namun seiring banyaknya pelayanan yang mesti saya lakukan, pelan-pelan menumbuhkan rasa percaya diri. Maka sayup-sayup saya mendnegar nasihat Santa Teresia Avila, “people must walk along this path in freedom, placing themselves in the hands of God.” (Riwayat Hidup, 22.12).

Jalan ini adalah jalan iman, yang hanya bisa dilalui dengan iman. Beriman berarti berani melihat rahmat Allah melalui mata jiwa. Jalan ini adalah jalan cinta, yang hanya bisa disusuri dengan cinta. Mencinta berarti menyerahkan diri kepada pelukan kasih Allah, pelukan belas kasih Allah. Jalan ini adalah jalan pengharapan, yang hanya bisa dijalani dengan pengharapan. Berharap berarti menyadari segala keterbatasan diri dan ampun yang diberikan oleh Allah.

Terkadang dalam perjalanan akan berjumpa hujan atau mungkin angin badai, toh perjalanan harus terus dihela. Bahkan tak jarang sumer terangpun tiara, tetaplah terus melangkah, ciptakan sendiri terang, minimal menerangi ujung kaki ke mana tungkai melangkah.

Jalan masih panjang. Tujuan tetap sama, mungkin rute berbeda. Tetap yakin bahwa Tuhan sudah menanti, mungkin juga dengan segelas kopi dan sepiring kacang goreng untuk teman bercengkerama. Cerita ini berakhir di sini, tetapi perjalanan masih terus berlanjut.

salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s