PERJALANAN

21 Oktober 2013.

Pertama kali saya injakkan kaki di Hong Kong dan memulai banyak perjalanan. Hari sudah mulai malam bahkan hampir larut tatkala tiba di pondokan. Maryknoll House. Terletak di desa Stanley pinggiran selatan Hong Kong.

Setelah ditunjukkan di mana kamar yg akan saya tempati, saya hanya membongkar barang seperlunya. Yg lain saya biarkan di koper dulu. Badan sudah terasa lelah dan mata juga sudah ingin memejam.

Seminggu pertama, kami (saya dan teman sepondokan) mencoba mengenal tempat di mana kami tinggal, berkunjung ke rumah keuskupan, bertemu dengan beberap teman. Puji Tuhan, dalam seminggu awal sudah banyak yg bisa kami lakukan. Satu hal yg langsung terasa; kami harus melakukan banyak perjalanan.

Maryknoll House terletak di puncak bukit. Dari halte bis, kami harus berjalan mendaki. Setiap hari. Waktu itu udara agak sejuk, sudah mendekati musim dingin, maka berjalan mendaki bukit setiap hari tidak sangat melelahkan.

6 Januari 2014

Kami mulai belajar bahasa kantonis. Teman-teman saya sudah pernah belajar kantonis sebelumnya, atau mereka memiliki background Chinese, entah keluarganya atau karena belajar mandarin. Saya harus memulainya dari Enol.

Tempat kami belajar kantonis berada di daerah Tsim Sha Tsui. Tepatnya di Rosary Church. Sangat jauh. Maka, kami mengambil kelas sore hari. Mulai jam 2 sampai jam 5 sore, setiap hari dari Senin sampai Jumat.

Perjalanan dari Stanley ke Tsim Sha Tsui sangat jauh tetapi sangat menyenangkan. Ada banyak pilihan moda, maksudnya banyak pilihan kami mau lewat mana. Tetapi kami memutuskan untuk naik bis 973. Bis ini memiliki stopan lebih dari 50. Bisa dibayangkan jauhnya.

Baiklah saya beri gambaran. Bis ini bertolak dari terminal Stanley di pinggiran selatan pulau Hong Kong menuju ke daerah Tsim Sha Tsui sisi timur. Sudah bukan pulau Hong Kong lagi. Dari Stanley akan menyisir daerah barat Hong Kong. Mulai dari pantai Repuls Bay, Deep Water Bay, Aberdeen, HKU, lalu lewat tunnel barat, masuk daerah Jordan, dan Tsim Sha Tsui. Waktu tempuhnya biasanya 70-80 menit. Kalau ada macet bisa lebih lama.

Bis ini bertolak 20 menit sekali, maka untuk menghindari keterlambatan, kami menumpang bis yg berangkat pukul 12.10. Biasanya kami sampai di terminal Moddy Road, Tsim Sha Tsui timur, antara pukul 13.20-13.30. Lalu kami masih harus berjalan kaki menuju Gereja sekitar 10-15 menit.

Kami hampir tidak pernah makan siang. Tidak cukup waktu untuk makan siang. Maka kami hanya makan biskuit saja. Terkadang kalau kami ada janji dengan teman, maka kami berangkat lebih pagi dan dengan demikian masih ada waktu untuk makan siang.

Pulang kursus juga hampir sama. Kami harus dapat bus yg jam 17.15. Kalau lewat, kami akan terjebak kemacetan yg amat parah. Sampai di pondokan biasanya sekitar jam 7 malam. Badan penuh keringat dan perut lapar. Maka semua makanan yg dihidangkan biasanya kami santap dengan riang.

Demikian hari demi hari kami lalui. Dan saya bukanlah pembelajar yg baik. Belajar bahasa dari Senin sampai Jumat selain melelahkan juga membosankan. Maka setiap sabtu saya gunakan untuk hiking. Menyusuri jalur-jalur hiking yg dibangun dengan sangat rapi dan baik oleh pemerintah HK. Pada hari Minggu biasanya saya bergabung dengan para saudara komunitas Indonesia Katolik di HK.

Setelah beberapa bulan berlalu, kami melakukan perjalanan yg baru. Hampir setiap sabtu kami pergi ke daerah New Territories semisal Yuen Long, Tin Shui Wai, Tuen Mun, untuk mencari rumah yg akan dijual. Ada seorang kawan yg baru kami kenal yg dengan rela hati membantu kami, menemani kami.

Kawan ini bernama Dany, yg kami kenal karena seorang suster merekomendasikan pada kami. Dia pernah menjadi anggota awam karmelit dari ordo karmel tak berkasut. Sungguh, dia menjadi teman perjalanan yg disiapkan Tuhan bagi kami.

Dari situlah kami semakin mengenal Hong Kong lebih dalam. Bukan hanya dalam hiruk pikuk manusia di MongKok atau Causeway Bay; tetapi geliat orang-orang lokal dan pinggiran. Hampir tiap minggu kami menyusuri lorong-lorong perkampungan untuk mencari rumah. Satu hal yg kami pahami; kami sungguh miskin. Bahkan untuk rumah yg paling murahpun kami tak mampu membelinya.

20 Desember 2014

Sudah lebih dari setahun kami tinggal di Hong Kong dan mondok di Maryknoll House. Kemampuan kantonis kami, saya terutama sangat lambat berkembang. Pertama karena memang otak saya agak dudul kalau belajar bahasa. Yg kedua, kami tinggal di lingkungan Amerika. Setiap hari kami ngobrol menggunakan bahasa Inggris, berliturgi memakai bahasa Inggris, maka bukan kantonis yg berkembang tetapi Inggris yg lebih maju. Maka kami memutuskan untuk pindah.

Pada 9 November 2014, teman saya lebih dulu pindah ke Tin Shui Wai, ke St. Jerome Parish. Di sana, selain belajar bahasa kanton, juga melayani komunitas yg berbahasa Inggris terutama teman-teman Philipina.

Saya baru pindah menjelang Natal ketika tidak ada lagi beban sekolah. Maksudnya kursus bahasa sedang libur. Saya pindah ke paroki St. Anne, di Stanley. Sebenarnya saya tidak pindah jauh, hanya bergeser saja. Harapannya jelas, di paroki saya memiliki kesempatan untuk belajar kantonis.

Perpindahan kali ini ada yg menggelisahkan. Kalau sebelumnya saya tinggal dengan satu saudara yg saya kenal, sekarang tidak ada lagi. Saya akan sendirian.

Di St. Anne ada dua orang pastor. Pastor Maryknoll sebagai pastor paroki adalah orang Amerika dan orang pastor pembantu searing missionaries dari Perancis. Yg Amerika tidak mengerti kantonis, tapi fasih berbahasa Jepang. Yg Perancis, fasih kantonis dan mandarin. Kalau kami kumpul bertiga, kami ngobrol Inggris.

Komunitas baru saya yang kecil ini, sungguh-sungguh kecil. Kami harus rela berbagi untuk banyak hal. Kami hanya memiliki satu kamar mandi, satu kamar kecil, satu dapur, satu ruang makan, satu tempat cuci. Maka kami sungguh belajar hidup bersaudara dalam keberbedaan. Saya Indonesia dengan mereka yang Amerika dan Perancis. Belajar saling menerima dan memahami jika di antara kami ada yang terjatuh karena lelah.

Kami bertiga biasanya hanya berkumpul pada pagi hari, jadwal sarapan pagi menyatukan kami. Biasanya setelah perayaan ekaristi di biara karmelites. Kami bertiga memiliki selerea sarapan yang berbeda. Pastor paroki lebih suka merendam roti di dalam mangkok berisi the panas, lalu minum segelas kopi dan segelas susu. Yang misionaris perancis lebih suka membuat the terlebih dahulu sebagai ritus pembuka dan memanaskan sereal yang katanya baik untuk kesehatan. Sedangkan saya, mengupas apel terlebih dahulu, baru membuat kopi dan terakhir memanggang selembar roti yg saya oleh dengan selai kacang.

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s