Masih Berjalan

Mulai merasakan kehidupan paroki memberikan suasana yang berbeda dalam perjalanan. Perjumpaan demi perjumaan dengan pribadi-pribadi yang baru memberi warna yang baru dalam sketsa perjalanan yang belum tahu ke mana arah menuju.

Saat saya pindah ke paroki, semangat kami untuk mencari rumah sendiri sudah mulai redup. Seperti yang sudah saya singgung dalam cerita sebelumnya, kami semakin menyadari betapa miskinnya kami, bahkan untuk membeli rumah yang paling murah, yang paling jauh dari pusat kotapun kami tidak mampu.

Perjalanan demi perjalanan mencari rumah akhirnya kami hentikan. Focus kami adalah belajar dan sebisa mungkin berusaha masuk dalam kehidupan paroki. Juga sejak pindah ke paroki saya tidak lagi datang ke komunitas Indonesia. Harapan saya ialah kemampuan kantonis akan meningkat drastis. Nyatanya, biasa saja.

Karena perjalanan mencari rumah sudah kami hentikan, maka saya melanjutkan kegemaran baru saya, berpetualang setiap akhir pekan, menyusuri trail-trail hiking di sekitaran Hong Kong. Terkadang cukup jauh, menyeberang pulau, terkadang hanya di sekitar Tai Tam Country Park yang setiap hari memanggil saya datang.

February 2015

Saya lupa tepatnya kapan, tetapi di awal bulan Februari. Sore itu, Bruno teman saya yang seorang missionaris Perancis mengabarkan bahwa ada peluang bagi kami untuk bisa ‘memiliki’ rumah. Dia kemudian menceritakan bahwa ada tarekat religious yang akan meninggalkan Hong Kong, meninggalkan seluruh karya pelayanan mereka. Salah satunya adalah pelayanan rumah retret di Shek O. 

Teman saya ini menekankan, kalau kami memang berminat dalam bidang retret, membagikan spiritualitas kepada umat, ini adalah kesempatan yang sangat baik. Kalau kami sampai mendapatkan rumah itu, seperti sambil menyelam minum es teh. Karena selain akan mendapatkan tempat untuk tinggal, kami juga akan mendapatkan tempat untuk melakukan karya pelayanan. What a kind of Grace!

Tanpa membuang tenaga dan kesempatan, saya menghubungi bos saya di Tin Shui Wai untuk menulis surat ke keuskupan, untuk “melamar” rumah retret tersebut. Lalu rahmat itu memang seperti durian yang jatuh dari pohon tepat di depan kaki. Keuskupan mengijinkan kami mengelola rumah retret tersebut setelah nanti para suster meninggalkan Hong Kong. 

Ternyata semuanya adalah rancangan-Nya. Ketika kami sudah putus asa dan hampir menyerah, Tuhan menunjukkan jalan, memaparkan rancangan-Nya yang jauh lebih indah.

Dulu angan-angan kami adalah memiliki rumah di Hong Kong, di mana kami bisa tinggal sekaligus bisa melakukan karya pelayanan, membagikan kekayaan rohani yang kami pikul dari Indonesia. Sekarang angan-angan kami menjadi lebih besar lagi. Rumah retret. Kami masih belum sepenuhnya percaya bahwa semua itu benar-benar terjadi.

28 Maret 2015

Hari itu adalah peringatan 500 tahun lahirnya Santa Teresa dari Avila. Acara di Hong Kong diawali dan diakhiri di biara suster-suster karmelites OCD di Stanley. Hari itu juga menjadi hari bersejarah bagi kami. Setelah sekian lama mendua, maksudnya hanya berdua, kami kedatangan anggota yang ketiga. Maka setelah mengikuti acara di Stanley, saya bergegas berangkat ke airport untuk menjemputnya. Nanti, kawan saya ini akan tinggal bersama di paroki St. Anne.

Kedatangan anggota ketiga ini bukan tanpa dasar yang kuat. Kami ingin secara formal bisa berdiri sebagai sebuah lembaga di Hong Kong. Untuk mengurusnya dibutuhkan keanggotaan yang pasti dengan jumlah minimal 3 orang. Maka pimpinan kami mengutus anggota ketiga untuk ikut membuka karya pelayanan di negeri beton ini.Kami berdua hanya terpaut satu tahun saja, tetapi kalau saya memperkenalkan diri bahwa dia adalah adik saya, semua orang akan percaya. 

Katanya kami memiliki kemiripan. Saya sedikit bingung, kami mirip dari mana. Dia asli berdarah China, sedangkan saya Jawa tulen. Mungkin karena sedikit sipit dan rambut kami lurus maka dikatakan mirip. Yang kedua, dia lebih tua setahund ari saya, dan ini banyak orang tidak percaya. Kali ini nasib saya agak apes. Biasanya saya dikatakan kelihatan lebih muda, sekarang ada yang lebih “bayi” lagi.  

Di luar kemiripan itu kami memiliki kemiripan yang lain, yaitu sama-sama suka makan dan sama-sama suka masak. Hanya saja, dia masih agak pilih-pilih. Ini nggak suka, itu nggak doyan, dll. Kalau saya asal matang semua bisa dimakan. Sedangkan perbedaannya adalah, dia tipe setia di rumah. Kegemarannya mengurus kebun. Sedangkan saya gemar berkeliaran, keluyuran dari hutan ke hutan.

Di tahun kedua ini, perjalanan saya seolah berjalan di tempat. Kawan yang datang memang meredakan keadaan, mejadi penolong di kala sepi datang menyerang. Tetapi juga melenakan. Kami menajdi sibuk dengan kesenangan kami, masak memasak. Biasanya saya masak untuk lunch sedangkan dia masak untuk dinner. Saya sekolah sore dia sekolah pagi. Sehingga kami bergantian menyiapkan makanan. Ketika malam datang, kami sama-sama berjalan di pinggiran pantai Stanley. Seakan mesra, lama-lama membosankan. Alasan olah raga, yang pasti malas belajar.

Kami berdua belajar saling memahami dan menerima. Dia masuk biara pada tahun saya ditahbiskan. Maka meskipun dia lebih tua, namun menurut dengan saya. Meski demikian saya tidak berlaku tidak sopan kepadanya. Kami sama-sama belajar, dari kekurangan kami, juga dari kelebihan.

Karena sekarang kami bertiga, maka ada kegiatan yang juga menyenangkan. Yaitu saling berkunjung dan berbagi pengalaman rohani. Dalam satu waktu kami berdua mengunjungi saudara yang di Tin Shui Wai dan di waktu yang lain beliau mengunjungi kami yang di Stanley. Bahkan kami pernah mengadakan pertemuan di McM. Hanya pesan makanan sekali tetapi duduk di sana 4 jam. Untunglah kami tidak diusir.

Oktober 2015

Bulan Oktober adalah bulan yang special bagi kami bertiga. Hal pertama tentu berkaitan dengan kedatangan kami di Hong Kong. Tetapi juga bukan hanya itu. Mari kita awali dari tanggal 1. 

Pada waktu itu kami sebagai karmelit merayakan pesta Santa Theresia Lisieux, seorang santa pelindung misi. Selain memang dia adalah karmelit, dia juga pelindung misi, maka bagi kami yang belajar menjadi misionaris ini, pesta santa dari Perancis ini sungguh istimewa.

Yang kedua, saudara tua saya, tetua diantara kami bertiga, merayakan ulang tahun pada tanggal 15 Oktober. Hari itu adalah juga pesta Santa Teresa Avila, seorang besar dalam karmel. Merayakan keduanya adalah merayakan kasih Allah yang telah menciptakan dan menjadi tujuan dari seluruh perjalanan ini akan berakhir.

Sehari berselang, saudara “muda” saya merayakan ulang tahun tahbisan. Masih gress kinyis-kinyis. Tentu semangatnya menyala-nyala seperti kompir yang siap memanaskan apa saja. dan selang seminggu kemudian, 24 Oktober adalah ulang tahun kelahiran saudara “muda” saya.

Maka Oktober menjadi bulan yang penuh rahmat bagi kami. Pada waktu itu kebetulan ada libur pada tanggal 21 Oktober. Maka kami mengundang beberapa teman untuk bersama kami merayakan kasih Tuhan. Dan itu memberi semangat yang jelas, bahwa perjalanan memang masih jauh, tetapi bukan berarti harus mengeluh. Saatnya mengebaskan peluh dan kembali ke jalan tempuh.

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s