TOM YUM SOUP

Disclaimer: Makanan ini bukan makanan saya, tetapi makanan teman saya yg suka makan tahu, tetapi kalau ke rumah makan sukanya kwe tiaw atau tom yum kalau ada. Saya hanya memotret saja. Demikiaj disclaimer, maka seluruh ulasan mengenai tom yum ini hanyalah khayalan belaka. Terimakasih.

Hari ini agak berbeda, catatan diawali dengan disclaimer. Apa itu saya juga nggak tahu, hanya gaya-gaya saja. Mumpung gaya masih bisa buat bahan, bahan apa saja; ya gossiplah, ya reflektiflah, ya membuallah. Apa sajalah.

Oh iya, pertama kali saya menikmati dan sungguh menyukai tom yum, adalah ketika saya masih di Malang. Kebetulan kalau anggota komunitas ada yg berulang tahun, kami biasa pergi ke rumah makan. Nahhh salah satu rumah makan yg biasa kami kunjungi adalah Batavia Resto. Menurut saya, tom yumnya enak, cocok di lidah. Setidaknya saudara-saudara saya sekomunitas sudah paham kalau ke sana, pasti saya akan pesan tom yum dalam porsi besar.

Berikutnya, saya benar-benar menikmati tom yum ketika mendapat kesempatan jalan-jalan ke kota Bangkok. Kebetulan salah satu universitas di Jakarta mengundang kepala sekolah- kepala sekolah yg muridnya banyak kuliah di tempat mereka. Lumayanlah 3 sampai 4 hari di sana.

Lalu di banyak tempat lagi, meniknati suguhan soup khas Negeri Thailand ini. Ada yg pas ada yg mengecewakan.

Menurut lidah saya yg agak ndeso ini, ukuran kecut dan pedasnya haruslah pas. Kalau terlalu kecut atau kurang kecut juga nggak enak. Terlalu pedas atau kurang pedas juga kurang sedap. Harus pas.

Bagi saya tetap meninggalkan jejak pertanyaan yg sedikit aneh, mengapa makanan yg kexut dan pedes itu menjadi enak. Tentu saja masih ada banyak unsur yg lain yg membuat masakan itu enak. Tetapi tetap saja, ingatan yg membekas dari semangkok tom yum adalah kecut dan pedas.

Maka kalau saya menjumpai pengalaman yg sedikit kecut atau agak pedas, saya menganggapnya sedang menikmati semangkok tom yum. Kecut memang, pedas memang; tapi kalau dinikmati sedap juga.

Nikmatnya pedas dan kecut itu karena berani terus menyantap. Jika berhenti pada suapan pertama, niscaya nikmatnya tak akan terasa.

Pedas dan kecut amatlah dekat dengan sesuatu yang “tidak nyaman”. Misalnya ungkapan “kata-kata pedas”, “pengalaman kecut”, adalah sedikit gambaran bahwa rasa pedas dan kecut sejatinya cukup jauh dari rasa senang yang identik dengan nikmat. Bagaimana nikmat itu bisa didapat dari pengalaman pedas dan kecut? Jawabannya adalah dengan menikmatinya.

Gambaran yang lain adalah ungkapan, “in the hardship you will learn more”. Apakah yang dimaksud dengan “hardship” ini? Bukan berarti kapal atau perahu yang keras, tetapi dalam situasi yang keras, yang sulit, yang complicated, di sana terbuka kesempatan untuk belajar banyak hal.

Seperti kisah seorang pastor muda. Dia ditempatkan di sebuah paroki yang sangat besar, yang umatnya puluhan ribu, yang banyak sekali aneka pelayanannya. Pastor muda itu takut, kemampuannya belum seberapa dan pengalamannya pun sangat minim. Tetapi dia terus maju. Kawannya yang lebih senior mengatakan, “dalam situasi yang sulit, kamu akan belajar lebih banyak dari mereka yang tidak menghadapi kesulitan sama sekali.”

Kesulitan adalah kesempatan. Karena di sana ada banyak kemungkinan untuk bertindak. Kesulitan menghadirkan kreativitas. Seperti seorang pendaki gunung. tanpa melewati berbagai kesulitan dan rintangan, dia tidak akan menikmati pemandangan indah dari puncak sana.

Salam

Advertisements

One thought on “TOM YUM SOUP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s