Tentang NGUDAR RASA

Kapan hari saya membaca sebuah unggahan yang intinya “nyentil” org yg suka mengunggah foto makanan. Menurutnya, mereka itu nggak kasihan dengan org-org yg masih kesulitan untuk mendapatkan makanan. Begitulah kira-kira, bahwa menurutnya mereka yg suka pamer foto makanan di lamannya (sendiri) itu adalah org yg nggak punya emphati, nggak punya hati, nggak punya rasa solider yang yg lain.

Apakah saya akan membela diri karena suka mengunggah foto makanan? Tidak. Saya tidak akan membela diri. Saya hanya akan bercerita soal “ngudar rasa” yg menjadi topik unggahan saya. Bahkan akan saya jadian sebuah “topik besar” untuk catatan-catatan yang hendak saya buat.

Istilah “ngudar rasa” merupakan term ciptaan saya sendiri. Saya othak athik saja. Entah aslinya bahasa dari mana, saya tidak peduli. Yg penting bisa menandai satu topik gagasan yg hendak saya bagikan.

NGUDAR RASA, bisa dipahami dalam dua kata tersebut, bisa juga dipahami ke kata.

NGUDAR, saya terjemahkan dari bahasa Jawa sehari-hari, yg berarti mengurai sesuatu. Biasanya diberi akhiran “i”, menjadi “ngudari”. Kata kerja ngudari ini membutuhkan objek yg berupa benda kusut. Seperti tali temali yg tidak teratur, maka diudari, diurai.

Mungkin kata dasarnya “udar”. Ada kata lain yang dekat dengan ngudar adalah “medar”. Biasanya, kata “medar” lebih dekat dengan urusan ide, gagasan, kata, sesuatu yg sifatnya lebih abstrak.

RASA, berkaitan dengan dua dari lima indera yg dimiliki manusia. Yaitu indera pengecap dan indera peraba/sa. Indera pengecap berkaitan dengan rasa semisal pedas, pahit, asin, manis, dan kawan-kawannya.

Sementara itu indera peraba/rasa berkaitan dengan rasa semisal halus, kasar, panas, dingin.

Tetapi ada RASA yg dihasilkan bukan oleh indera pengecap maupun perasa. Dia dihasilkan oleh HATI. Semisal rasa takut, gembira, sedih, gugup dan sekompinya, mereka dirasa bukan dengan lidah atau diraba dengan tangan, mereka dirasa dengan hati.

Maka NGUDAR RASA, dalam term yg saya buat adalah mengurai rasa yg timbul dalam diri yg bisa terungkap dalam rasa yg dicecap lewat makanan. Mengurai untuk mengenali rasa itu. Karena rasa itu macam-macam jenisnya, maka cara pengungkapannya juga berbeda-beda.

Terkadang sedikit melankoli, karena ada satu rasa yg dominan pada waktu itu. Atau terkadang terasa “garing” seturut rasa hati yg juga garing.

Yg pasti “NGUDAR RASA” yg saya ungkapkan bukanlah “NGUDOROSO” dalam pemahaman berkeluh kesah. Dekat memang, karena masih bertetangga, tetapi beda maksud dan tujuan.

Maka NGUDAR RASA, bukanlah ajang pamer makanan. Untuk menunjukkan bahwa saya doyan makan. Benar bahwa saya doyan makan, karena saya butuh energi untuk bekerja. Apakah berarti saya tidak berempati dengan mereka yg kekurangan makanan? Wah itu soal yg berbeda sama sekali.

Mereka yg benar2 kekurangan makanan tidak akan melihat foto2 yg saya unggah. Karena kalau mereka mampu melihatnya, artinya mereka mampu membeli pulsa untuk internet. Lha kalau mereka mampu membeli pulsa untuk menjalankan internet, mengapa mereka tidak membeli makan terlebih dahulu?

Hal kedua, saya hanya ingin mengurai rasa. Nikmat dibalik rasa dan nilai dibalik setiap cecapan penganan yang ada. Nikmat sebuah makanan bukan saja terletak pada makanan itu sendiri, terapi juga pada sikap dan jiwa si penikmat juga.

Akhirnya, inlay NGUDAR RASA. Hanya ingin mengurai rasa yang ada. Dengan gaya yang berbeda-beda. Terkadang jenaka, terkadang juga sedikit nelangsa. Soal tata bahasa, juga mengikuti rasa yang bergema, suka-suka.

salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s