Adjining Diri

Pagi ini, di meja makan pastoran kami ngobrol soal pakaian. Dari soal pakaian yg berkaitan dengan penampilan, kemudian merembet ke soal perilaku. Banyaklah diskusi kami. Tak bisa saya ceritakan semuanya, nanti marah-marahlah orang pada kami, dikira kami tukang rumpi suka gossip dan penyebar pitnah.

Ngobrol pagi itu membawa saya kepada pelajaran yang pernah ditanamkan oleh leluhur saya dulu. Siapa? Pokoknya ada. Ada tiga ujaran yg disampaikan, berkaitan dengan pakaian dan perilaku.

Pertama soal pakaian dan penampilan. Leluhur saya mengajar demikian, “adjining rogo soko busono”. Bahwa pakaian yg kita kenakan akan memberikan nilai tersendiri pada org yg mengenakannya.

Saya kasihlah sebuah contoh. Berdiri di hadapanmu tiga pemuda gagah. Yg satu pakai celana kain hitam, baju lengan panjang, peci hitam dan sepatu bersemir mengkilat.

Yg kedua pakai celana pendek, bersandal jepit, kaos oblong, rambut seperti belum tersentuh air apalagi sampo sejak minggu yang lalu.

Yg ketiga, kepalanya bertutupkan topi bergaya hip hop, lehernya berkalung rantai besi, bajunya dibiarkan terbuka sampai atas pusar, celana jeans robek di beberapa bagian, sepatu kets agak kusam. Oh iya, di genggamannya ada sebungkus rokok dan henpon keluaran terbaru.

Apakah kesan yg kalian terima ketika berhadapqn dengan mereka? Apakah memiliki kesan yg sama? Tentu tidak. Kita akan menilai masing-masing secara berbeda.

Apakah pakaian mereka menunjukkan perilaku mereka? BELUM TENTU!!!!

Kita mengharapkan mereka yg pakaiannya rapi jali akan berperilaku sopan dan baik hati. Sementara kepada yg berpakaian amburadul kita menduga bahwa perilakunya juga tidak baik. Anggapan ini salah. Karena pakaian tidak memiliki hubungan dengan perilaku.

Maka ajaran leluhur yang kedua adalah, “Adjining diri soko lathi”. Seseorang dianggap sebagai pribadi yang baik bisa diukur dari tutur kata yang diucapkan.

Harap dipahami dengan baik, tutur kata ini tidak berhubungan dengan halis dan tidaknya; tetapi lebih “cocok apa tidak dengan tindakannya”.

Kita menilai orang yg bertutur kata halis dan manis, pandai merangkai kata-kata indah sebagai orang yg baik. Lalu kita menjadikannya motivator dan panutan. Kata-kata manis dan indah bisa dipelajari. Yg paling penting adalah korelasi dengan tindakan.

Saya berilah satu contoh.

Pada masa lalu ada beberapa tokoh politik di Indonesia, masih muda, berpenampilan rapi, berbicara halus dan tertata indah sekali; mereka berkata, “KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI”.

Tetapi kemudian mereka dipenjara karena kasus korupsi.

Maka saya teringat nasihat ketiga dari para leluhur, “Agama itu agemaning diri”.

Ini juga jelas sekali. Agama itu bukan soal pakaian putih yg saya pakai kalau sedang bertugas di gereja, bukan pula saat saya berlutut dengan mata terpejam agar bagus kalau diphoto, bukan pula kalau saya mengucap ayat-ayat suci setiap hari. Tetapi kalau mampu membawa saya mengasihi mereka yg membenci saya, kalau saya mengampuni mereka yg saya anggap melukai hati saya. Agama harus membungkus hati bukan pertama-tama penampilan agar kelihatan lebih rohani.

Tentu saja, kalau saya mengenakan pakaian putih, sudah selayaknya kalau perilaku saya juga demikian. Lalu juga tidak salah kalau orang berharap bahwa perilaku saya juga baik karena saya berpakaian baik dan bertugas dengan baik pula.

Maka tidak salah kalau kemudian ada bisik-bisik di belakang. “Bapak itu bertugas membagi komuni di gereja. Padahal…..” atau ada yg berbisik, “ih dia kok gaya sekali bertugas membawakan Sabda Tuhan, lha mulutnya tak henti menebar pitenah…” dan masih banyak bisik-bisik yg lain yg tidak bisa dicegah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s